Selasa, 26 April 2011

Jumat, 08 April 2011

Galuh Marindu { mencari permata }



Aku telah lelah mencarimu, dari Seraleong ke banjarbaru, takunjung jua aku menemuimu. Di semak-semak belukar, dalam lumpur-lumpur yang teramat becek, penuh rona merah di antara dada-dada yang membusung bercampur desah dan rintih bercampur darah.

Katanya kau berada di Afrika, namun aku lihat di sana banyak tangan-tangan kekar mengongkang senjata. Aku tak mampu menyaksikan mereka, demi mencarimu kenapa mereka begitu, ahh, mentari semakin menambah garang wajah-wajah penuh geram.

” Galuh marindu

silau cahayamu tutupi pandanganku,

tak habis nafsuku tuk memilikimu,

tuk sebuah hasrat yang senantiasa mengajaku tuk menyetubuhimu.

Akupun kembali berpikir tuk kembali pulang ke kotaku, aku bertanya kepada wajah-wajah sang pecinta, kulemparkan setiap tanya yang bercampur harap yang memenuhi rongga dada.

” Di sana, di Kota permata martapura, begitulah ucap mereka.

Namun di sana aku malah menemukan banyak senyuman yang berkilauan, merah, ungu, hijau, biru, dan kuning, selalu menghiasa kedua kornea mataku yang tak buta. Namun harapku tak juga sirna, aku belum menemukan si galuh yang memaksaku tuk merindu, kulemparkan tanya kepada lelaki penggosok batu.

” Pergilah ke kotamu, di Banjarbarulah dia berada, kami hanya mengolahnya di sini, pergilah dan segerlah menuju ke kelurahan cempaka, begitulah ucapnya kepadaku.

Aku terus memandangi lelaki penggosok batu itu, aku melihat satu buah batu belum terbentuk, lalu dia celupkan kedalam air, dan dia gosok pada sebuah mata gerinda, di bolak-baliknya batu yang sama sekali tidak menarik itu. Aku terus mengamati lelaki tua itu, sampai menuju waktu lima belas menit, aku lihat sebongkah batu yang teramat jelek tadi telah berubah menjadi sebuah batu berwarna hijau daun, berkilau nan rupawan. Lelaki itupun tersenyum kepadaku, lalu akupun permisi pergi. Namun sebelum aku pergi lelaki penggosok batu itu menitipkan sebuah pesan kepadaku.

” Si Galuh Buntatnya Naga

Lamunya uyuh jangan di paksa

Subab razaki itu urusan Sang Pancipta.

[ Intan / permata itu Mustika dari ular Naga, Kalo merasa capek ya bersistirahatlah dan jangan di paksa, sebab rezeki itu urusan Sang Pencipta. ]

Aku melanjutkan perjalananku menuju ke kotaku sendiri, lalu aku mencoba ketempat pendulangan intan ke Daerah Cempaka. Di sana aku melihat para penambang asik berkubang dengan lumpur, sebagian lagi asik melenggang dengan alat sederhana yang berbentuk caping namun berdiameter lebih besar, dan disudut yang tanah agak menjulang tinggi, aku melihat para penambang rakyat itu sedang menggali membentuk sebuah terowongan, lalu aku menghampiri salah satu dari mereka dan bertanya.

” Maaf pak, apakah tanah itu tidak akan longsor, sehingga bisa membahayakan teman-teman bapak yang berada di bawahnya ?

” Sebenarnya memang benar apa yang adik tanyakan dan takuti, sudah banyak teman kami yang telah mati disini, namun begitulah cara kita mencari sebongkah permata, banyak rintanganya, namun terkadang kalau kami kelelahan kami akan beristirahat sejenak, dan menjual batu-batu koral untuk di gosok menjadi permata cincin, kalau yang beruntung bisa mendapatkan jamrud, kalau yang kurang beruntung maka akan mendapatkan batu akik biasa, namun sama-sama indah bila sudah di asah.

Akupun merenung sejenak, dan teringat akan lelaki tua penggosok batu tadi.

” Terimakasih bapak atas informasi dan nasihatnya.

Bapak itu tersenyum kepadaku, dan menitipkan sebaris kata kepadaku.

” Sesungguhnya kamu bisa mendapatkan permata itu di sepertiga malam yang sunyi, dalam suasana yang penuh tanya, berbolak-balik seperti mengasah batu yang belum terbentuk.

” Terimakasih pak, saya akan mencobanya nanti, ” Assallamualaiku, salam pamitku kepada lelaki penambang itu.

****

Dalam sebuah suasana senja menuju malam, tak sengaja lagkahku melintasi sebuah cermin, kutengok wajahku disana, lalu aku bertanya.

” Bisakah aku menemukan Si Galuh Marindu ?!

” Benarkah dia berada di rumahku yang teramat kotor ini…?

Aku terus bertanya kepada wajah dalam cermin, lalu aku buka jendela, seorang nenek tua sedang menyapu pekarangan yang kotor, lalu tak berapa lama dia memungut sebuah benda yang berkilauan, dan diapun bersujud seketika, dan di masukan benda itu kedalam mulutnya, tak berapa lama iapun segera meletakan sapunya dan masuk kedalam rumahnya.

Aku masih terpaku dengan yang telah aku saksikan, ternyata yang aku cari sedang bersembunyi diantara kotoran yang harus kubersihkan.

——— sekian———

Terinspirasi di kala sedang berteduh dipendulangan intan cempaka kota banjarbaru.